SEJARAH DESA

SOSIO HISTORIS

Desa Babakan Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang sebagai bagian dari masyarakat Kabupaten Pemalang telah ada sejak berdirinya Kabupaten Pemalang (1575 M) sebagai upaya untuk menelusuri sejarah Desa, Tim penulis telah mengumpulkan, menginventarisir dan mewawancara para sesepuh Desa sehingga Sejarah Desa Babakan selengkapnya Adalah Sebagai Berikut

Setelah penyerangan ke Batavia(Jakarta pada saat ini) oleh prajurit mataram dengan hasil yang kurang maksimal disebabkan karena di bakarnya lumbung lumbung persediaan pangan prajurit oleh kompeni (VOC) sebagian prajurit kembali kekraton dan sebagian lagi diperintahkan untuk mengumpulkan persediaan pangan dengan membuka semak dan hutan belukar untuk pertanian.

Alkisah Kigede Rogopopo dan Kigede senter yang menurut cerita turun temurun membuka lahan dan dijadikan pendukuhan yang hingga saat ini ditempati oleh masyarakat. Kigede Rogopopo dan Kigede Senter sepakat membagi pedukuhan ini menjadi dua yaitu sebelah utara dan sebelah selatan dengan batas alam sungai ( wangan). Karena sulit dan sukarnya membuka belukar dan hutan untuk pedukuhan ini Kigede Rogopopo bekerja keras dikala siang sampai tangan dan kakinya babak ( luka/tergores) dan bersemadi/ berdoa dikala malam setiap saat sampai tubuhnya kurus dan kering (raga papa ) sampai akhirnya hasil kerja keras dan doana dikabulkan oleh Allah Swt, apa yang ditanam dengan alat panjajati ( kayu jati yang ujungnya runcing dan gagangnya bengkok ) tumbuh subur berbuah lebat dan menghasilkan panen yang baik. Atas kerja keras hingga babak akhirnya dapat panen dan bisa mangan ( Makan ) Kigede beryakinan bahwa ora babak ora mangan keyakinan tersebut menjadi simbol pendukuhan yang selanjutnya dikenal dengan nama Babakan. Panjajati akhirnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Kigede Rogopopo setiap saat dibawa sebagai alat menanam, senjata pemukul, dan untuk jalan dikala licin ( sebagai teken). Selanjutnya karena tiada hari tanpa lepas dari Panjajati, orang-orang menyebutnya dengan istilah “Pusaka Jati Teken” sampai hampir hayatnya. Konon kabarnya setelah Kigede Rogopopo meninggal Panjajati itu hidup menjadi Pohon Jati besar dan diatasnya berbengkok seperti Teken sehingga diabadikan menjadi nama “ MAKAM JATI TEKEN ” sehingga sekarang.

Sementara itu Kigede Senter yang membuka dipedukuhan bagian selatan tidak begitu kesulitan dalam membuka lahan karena melalui sungai ( wangan ) sehingga disamping kerja keras deapat menyalurkan Ilmu Agama  Dahwah kepada pengikutnya sehingga memperoleh julukan Kyai. Kyai Serter mempunyai Pusaka Umbul Waring yang konon berguna untuk mencegah yang berniat merusak/angkoro dan dapat menunjukan Orang-orang yang berbuat jahat.

Selanjutnya Pusaka itu diabadikan untuk nama lebak / wilayah paling selatan dengan nama Kwaringan. Dan Lebak dimana Kyai Senter tinggal hingga akhir hayatnya dinamakan oleh masyarakat senteran. Hal ini ditandai makam kuna yang dinamakan Makam Kyai Senter hingga saat ini. Benar tidaknya cerita ini hanyalah Allah yang tahu.